PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) bersama Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI) melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) melaksanakan kegiatan Monitoring dan Evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) / Pangan Olahan untuk Keperluan Medis Khusus (PKMK) ebagai bagian dari program PHR Peduli Stunting. Kegiatan ini menjadi langkah sistematis untuk memastikan bantuan intervensi gizi bagi balita dan ibu hamil tepat manfaat, tepat sasaran, dan memberikan perubahan pada status kesehatan masyarakat di wilayah kerja PHR.
Pelaksanaan Monev dilakukan melalui mekanisme koordinasi langsung dengan bidan desa, kader posyandu, serta pemerintah kelurahan setempat di masing-masing kabupaten/kota. Beberapa kegiatan turut dihadiri oleh perwakilan tim Community Involvement and Development (CID) PHR dan tim pelaksana LPPM UMRI sebagai bentuk komitmen dan keterlibatan aktif dalam proses evaluasi lapangan serta diskusi tindak lanjut terhadap temuan yang muncul.
Monev dilakukan di tujuh kabupaten/kota wilayah kerja PHR dan mitra UMRI, yakni:
- Kota Pekanbaru – Lembah Damai Puskesmas Pembantu, 28 Oktober 2025
- Kabupaten Siak – Posyandu Melati Minas dan Kantor Kelurahan Sungai Gondang, 28 Oktober 2025
- Kabupaten Rokan Hulu – Kelurahan Pekan Tebih, Kasang Mungkal, dan Kasang Padang, 28–29 Oktober 2025
- Kota Dumai – Kelurahan Jaya Mukti dan Kelurahan Bumi Ayu, 31 Oktober 2025
- Kabupaten Kampar – Kelurahan Rimba Beringin, Tanjung Sawit, dan Indrapuri, 5 November 2025
- Kabupaten Rokan Hilir – Kelurahan Banjar XII, Putat, dan Sintong, 7–8 November 2025
- Kabupaten Bengkalis – Kelurahan Tengganau, Muara Basung, dan Kuala Penaso, 10 November 2025
Total terdapat 22 kelurahan yang menjadi lokasi sasaran pelaksanaan Monev.
Kegiatan ini merupakan bagian dari strategi keberlanjutan Program PHR Peduli Stunting yang bertujuan memantau efektivitas pemberian bantuan PMT untuk balita dan PKMK bagi ibu hamil. Intervensi gizi yang diberikan dipastikan sesuai kebutuhan masing-masing sasaran dan berlangsung secara berkala. Monitoring mencakup pengukuran tinggi dan berat badan balita, pemantauan status kesehatan ibu hamil melalui pengukuran berat badan, lingkar lengan atas (LILA), dan kadar hemoglobin (HB), serta pencatatan data penerima manfaat secara detail dan berkelanjutan.
Pelaksanaan kegiatan Monev dilakukan melalui kerja sama lintas pemangku kepentingan, mencakup tim CID PHR, tim pelaksana UMRI, bidan desa, dan kader posyandu. Setiap pelaksanaan diawali dengan koordinasi teknis bersama pemerintah kelurahan dan tenaga kesehatan sebagai bentuk sinergi agar pelaksanaan pendataan dan pengukuran berlangsung efektif, akuntabel, dan sesuai prosedur kesehatan. Pengukuran dilakukan dengan alat yang terstandar dan pendokumentasian dilakukan secara digital serta tercatat rapi sebagai bahan analisis tahap selanjutnya.
Dari pemantauan bulan Oktober dan November di 22 titik lokasi, diperoleh data akurat yang menunjukkan peningkatan status gizi bagi seluruh penerima manfaat (100%). Penerima PMT terdiri dari 301 balita, sementara penerima PKMK terdiri dari 94 ibu hamil. Evaluasi ini dilakukan berdasarkan parameter pengukuran BB/TB, LILA, HB, serta konsistensi kunjungan posyandu. Data tersebut menunjukkan efektivitas program dalam meningkatkan status gizi sasaran, sekaligus memperlihatkan bahwa edukasi, pemantauan, dan pendampingan yang dilakukan kader serta tenaga kesehatan memberikan hasil positif.
Selain berdampak langsung pada kesehatan, kegiatan ini juga memperkuat koordinasi antara PHR, UMRI, tenaga kesehatan desa, pemerintah daerah, dan masyarakat penerima manfaat. Model kolaborasi ini menjadi contoh nyata praktik pemberdayaan berbasis edukasi dan pendampingan terstruktur yang melibatkan multipihak dalam penanganan stunting di wilayah kerja PHR.
Saat ini monitoring untuk periode bulan Desember masih berlangsung (on progress), sesuai rencana bahwa kegiatan monitoring dan evaluasi akan dilakukan sebanyak tiga kali dari September hingga Desember 2025. Hasil akhir Monev akan menjadi dasar penyusunan rekomendasi lanjutan bagi efektivitas program, perluasan sasaran, serta penguatan intervensi gizi pada tahapan program berikutnya.


