Menu Close

PHR dan UMRI Tingkatkan Kapasitas KTH Alam Pusaka Jaya Melalui Pelatihan Budidaya Lebah Madu Kelulut, dan Budidaya Coklat, dan Kopi

Sebagai bentuk dukungan dalam meningkatkan kapasitas masyarakat dalam pengelolaan komoditas berbasis konservasi, PHR–UMRI sebelumnya telah memberikan bantuan kepada KTH Alam Pusaka Jaya berupa 250 bibit kopi, 250 bibit coklat, 20 box sarang madu kelulut, serta APD dan alat ekstraksi madu. Bantuan ini menjadi langkah awal penguatan kelompok sebelum pelaksanaan kegiatan pelatihan.

Sebagai upaya meningkatkan kapasitas masyarakat dalam pengelolaan komoditas berbasis konservasi, Community Involvement & Development (CID) PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona Rokan bersama mitra pelaksana kegiatan, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI), melaksanakan Pelatihan Budidaya Lebah Madu Kelulut serta Budidaya Coklat dan Kopi untuk anggota Kelompok Tani Hutan (KTH) Alam Pusaka Jaya. Kegiatan berlangsung pada Sabtu (29 November 2025) di Aula Kantor Camat Pinggir.

 

Pelatihan dibuka oleh PIC UMRI, Delovita Ginting, M.Si, yang dalam sambutannya menyampaikan pentingnya meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengelola komoditas pertanian ramah lingkungan. Ia menekankan bahwa kegiatan ini merupakan langkah strategis dalam mendorong penguatan ekonomi hijau di Desa Pinggir.
Kegiatan ini bukan hanya transfer ilmu, tetapi sebuah upaya nyata untuk membangun masyarakat yang mampu memanfaatkan potensi lokal secara berkelanjutan. Kelulut, coklat, dan kopi bukan hanya komoditas bernilai ekonomi, tetapi juga mendukung upaya konservasi ekosistem,” ujar Delovita.

Kegiatan ini turut dihadiri oleh CDO PHR,Syahrul Al Qadar, Ketua KTH Alam Pusaka Jaya John Hendrik, Bhabinkamtibmas Desa PinggirAipda Sutopo, serta para anggota KTH.

Pada penyampaian materi pertama, Desry Hamzah, S.Pt bersama Rais Adli, S.Pt memaparkan teknik budidaya lebah madu kelulut mulai dari manajemen koloni hingga strategi peningkatan produksi. Menurut Desry, kelulut merupakan komoditas yang sangat potensial bagi masyarakat karena nilai ekonominya tinggi dan perawatannya relatif mudah.
Kelulut adalah budidaya yang minim risiko dan sangat ramah lingkungan. Jika dikelola dengan baik, masyarakat bisa mendapatkan hasil yang stabil sepanjang tahun,” paparnya.
Rais Adli menambahkan bahwa kualitas madu kelulut Indonesia semakin diakui di pasar nasional.

Tantangan kita bukan hanya memproduksi, tetapi menjaga kualitas dan konsistensi agar produk kita memiliki daya saing,” ujarnya.

Usai sesi pertama dan istirahat, kegiatan dilanjutkan dengan materi budidaya coklat dan kopi yang disampaikan oleh Memory Anne Paduma Nainggolan, S.P. Ia menjelaskan pentingnya pemahaman teknis agar kualitas biji coklat dan kopi yang dihasilkan dapat meningkat.
Coklat dan kopi bukan sekadar tanaman komoditas. Ini adalah identitas daerah yang memiliki nilai ekonomi tinggi jika dikelola dengan benar,” jelasnya.
Ia juga mengajak peserta untuk melihat peluang pengolahan pascapanen sebagai nilai tambah.
“Nilai tambah terbesar terletak pada pengolahan. Ketika petani mampu mengolah dan mengemas produk sendiri, kesejahteraan masyarakat akan meningkat,” tambahnya.

Pelatihan ini menjadi sarana bagi anggota KTH untuk memahami pentingnya pemanfaatan teknik budidaya yang tepat sebagai bagian dari pengembangan ekonomi ramah lingkungan. Melalui pelatihan ini, masyarakat diharapkan mampu mengembangkan model usaha yang berkelanjutan, tidak merusak lingkungan, serta mendukung konservasi multispesies yang tengah digalakkan.

Kegiatan didampingi secara langsung oleh PIC UMRI, Delovita Ginting, M.Si, yang memastikan rangkaian kegiatan berjalan dari awal hingga akhir sebagai bentuk komitmen UMRI dalam mendukung pengembangan kapasitas masyarakat.